Waspada dan Siap Antisipasi Hepatitis Akut Berat


EDITORIAL Media Indonesia 5 Mei 2022 berjudul Cegah Hepatitis Akut Jadi Bencana secara jelas menuliskan bahwa ‘kita memang tidak boleh panik, tetapi mutlak waspada menghadapinya’. Dalam hitungan beberapa minggu sejak pertama kali dipublikasikan WHO pada 15 April 2022 memang jumlah kasus hepatitis akut berat ini terus meningkat.

Data WHO per 1 Mei 2022 menunjukkan, sedikitnya sudah ada 228 kasus probable dari 20 negara, dengan ada lebih dari 50 kasus lagi yang masih dalam penelitian. Di satu sisi penambahannya memang cepat, ini memang dapat berarti jumlah kasus memang bertambah, tetapi juga dapat terjadi karena meningkatnya kepekaan dan pemahaman terhadap hepatitis sehingga jumlah kasus yang tadinya tidak terdeteksi lalu menjadi tercatat lebih baik dan jumlah totalnya menjadi bertambah.

 

Definisi kasus

Seperti diketahui, bahwa yang kita hadapi saat ini bukanlah hepatitis yang sudah lama kita kenal selama ini. Hepatitis yang merupakan peradangan organ hati biasanya terjadi karena virus hepatitis, baik tipe A, B, C, D, atau E. Sementara itu, hepatitis yang sekarang masuk disease outbreak news (DONs) WHO justru tidak ditemukan virus hepatitis A sampai E itu walaupun yang dialami pasiennya ialah penyakit hepatitis juga.

Sampai 23 April 2022, WHO membagi hepatitis yang kini ini menjadi tiga kelompok definisi kasus. Pertama ialah kasus terkonfirmasi (confirmed) yang secara jelas disebutkan bahwa belum ada definisinya. Ini terjadi karena memang sampai sekarang dunia belum tahu pasti apa penyebab hepatitis yang sekarang ini. Memang, pada sebagian cukup besar kasus ditemukan adanya adenovirus, tetapi kita ketahui bahwa biasanya adenovirus menimbulkan gejala ringan dan bahkan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), padahal hepatitis yang sekarang ini akut dan berat. Adenovirus juga secara umum tidak berhubungan dengan terjadinya hepatitis, kecuali pada keadaan tertentu seperti mereka dengan gangguan sistem imun (immunocompromised), atau transplantasi hati. Padahal, sekitar 200 kasus yang ada sekarang ini sebelumnya sehat-sehat saja.

Jadi, tentang penyebab pasti hepatitis kali ini memang masih perlu penelitian lebih lanjut, setidaknya dalam empat aspek. Pertama apakah mungkin ada perubahan pada adenovirusnya. Kedua, apakah ada virus-virus lain yang juga bersama-sama berperan menimbulkan penyakit. Ketiga, apakah ada faktor lain seperti toksin, pencemaran makanan atau aspek lingkungan, serta keempat apakah mungkin ada hal tertentu pada pasien yang terkena penyakit ini. Faktor lain juga masih harus diteliti, termasuk mungkin adanya peningkatan kerentanan kepekaan anak-anak sesudah relatif rendahnya sirkulasi adenovirus selama pandemi covid-19, serta juga kemungkinan lain sehubungan koinfeksi dengan virus SARS-CoV-2.

WHO menegaskan hipotesis yang menghubungkan penyakit itu dengan vaksin covid-19 tidaklah punya dasar ilmiah yang jelas dan sebagian besar dari anak-anak yang sakit itu juga belum pernah mendapat vaksinasi covid-19. Sebelum ada penyebab pasti, definisi untuk kasus terkonfirmasi (confirmed) memang belum dapat ditegakkan. Sementara itu, memastikan apa penyebab penyakit juga amat penting untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan yang paling tepat.

Kelompok definisi kasus kedua ialah probable, yaitu pasien yang menunjukkan gejala penyakit hepatitis akut (tanpa adanya virus hepatitis A sampai E), dengan kadar serum transaminase >500 IU/L (AST atau ALT), yang berumur di bawah 16 tahun. Batasan umur itu dibuat karena sejauh ini memang umur tertinggi ialah 16 tahun, tentu kita akan lihat juga perkembangan datanya pada hari-hari mendatang ini.

Sementara itu, kelompok definisi kasus ketiga ialah epi-linked, atau ada hubungan epidemiologik. Yang masuk kelompok itu ialah seseorang yang menunjukkan gejala penyakit hepatitis akut (tanpa adanya virus hepatitis A sampai E), umur berapa saja, yang punya kontak erat/langsung (close contact) dengan kasus probable sesuai dengan definisi di atas.

WHO memberikan catatan khusus, kalau pasiennya ada gejala dan keluhan sesuai dengan hepatitis, tetapi hasil laboratorium serologi untuk mendeteksi virus A sampai E belum ada, dan masih ditunggu, dapat disebut sebagai pending classification. Seperti diketahui bahwa pada 1 Mei 2022 Kementerian Kesehatan kita melaporkan adanya tiga kasus hepatitis akut berat yang meninggal dunia, tetapi belum dilaporkan ada tidaknya hasil laboratorium virus hepatitisnya dari A sampai E. Jadi, sementara ini, mungkin dapat dikelompokkan sebagai pending classification.

Definisi kasus itu tentu mungkin saja akan diperbarui kalau dalam waktu mendatang akan ada bukti-bukti ilmiah baru.

 

Perlu dilakukan

Editorial Media Indonesia 5 Mei 2022 menyatakan bahwa kita tidak boleh memandang enteng penyakit ini. Antisipasi dan pencegahan harus dilakukan. WHO menyampaikan negara yang sudah melaporkan kasus diimbau untuk menganalisis secara terperinci gambaran klinik kasus yang ada. Juga harus dikumpulkan data lengkap tentang riwayat paparan terhadap berbagai bahan sebelum jatuh sakit, juga dilakukan pemeriksaan toksikologi lengkap (makanan, lingkungan, dll) serta tentunya memeriksa berbagai jenis virus dan bakteri lain, yang mungkin saja jadi penyebab, atau setidaknya salah satu faktor penyebab (co-factor) terjadinya penyakit itu.

Direkomendasikan, bahwa yang diperiksa termasuk darah, serum, urine, tinja, dan secret/cairan saluran napas, dan bila mungkin dilakukan biopsi hati. Analisis sampel harus dilakukan secara mendalam, termasuk pemeriksaan sekuensing. Berbagai pemeriksaan itu tentunya harus dilakukan pada tiga kasus yang sudah ada di Indonesia yang, walaupun kasusnya sudah meninggal, mungkin saja sampel darah dan lain-lain masih tersimpan di rumah sakit yang merawatnya.

Kemudian, semua informasi yang tersedia sebaiknya juga dikomunikasikan dengan badan internasional dan regional agar penanganan secara global dapat terkendali. Untuk Eropa, yang merupakan awal kasus itu dilaporkan, telah ada The European Surveillance System (Tessy) yang dibuat bersama oleh WHO dan CDC Eropa (E-CDC). Akan baik kalau di masa datang Indonesia dapat memelopori pembentukan ASEAN-CDC sehingga kalau ada wabah seperti itu, dapat dilakukan surveilans regional secara lebih terorganisasi.

Program yang perlu dilakukan selanjutnya ialah upaya keras untuk mengidentifikasi, menginvestigasi, dan melaporkan kasus-kasus seperti definisi di atas. Juga, harus ditelusuri mendalam pola penyebaran epidemiologis antara kasus yang ada dan/atau dengan kontak sekitarnya untuk dapat dilacak kemungkinan sumber asal penyakitnya. Penyelidikan epidemiologis (PE) seyogianya juga melingkupi informasi geografis dan temporal sehingga datanya menjadi lengkap.

Kita tentu tidak berharap penyakit ini akan merebak luas. Namun, bagaimanapun tentu antisipasi kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan harus dilaksanakan. Kesiapan itu mulai pelayanan primer di puskesmas dan klinik sampai ke pelayanan di level rujukan tertinggi di rumah sakit. Kita tahu, misalnya, ketika kasus masih sekitar 170-an, sekitar 10% di antaranya memerlukan transplantasi hati. Jadi, hal itu mungkin perlu diantisipasi pula kalau diperlukan.






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »